x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM [RGN#NEWS] WARKOP HARLEX MANGGAR SEDIA TEH MANIS - KOP SUSU - KOPI O - JUS - COKLAT DINGIN - COKLAT HANGAT & ANEKA KULINER ALAMAT JALAN SITU KULONG MINYAK MANGGAR DEKAT KAWASAN WISATA KULONG MINYAK BELITUNG TIMUR [RGN#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA [RGN#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [RGN#NEWS] MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [RGN#NEWS]

Yusril Ziarah ke Makam Natsir Jelang Ujian Doktor

5 minutes reading
Friday, 3 Jul 2026 14:27 251 RumahGadangNewsCom

RumahGadangNews.Com | JSCgroupmedia ~ Menjelang menghadapi ujian disertasi Program Studi Ilmu Filsafat Universitas Indonesia, Prof. Dr. H. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., Datuak Maharajo Palinduang melakukan ziarah ke makam Mohammad Natsir di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Momen yang dibagikan melalui sebuah video tersebut menjadi refleksi pribadi sekaligus penghormatan kepada tokoh bangsa yang menjadi objek utama kajian disertasinya mengenai relasi Islam, negara, dan demokrasi.

Dalam keterangannya, Yusril menyebut kunjungan itu bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan ikhtiar batin untuk merawat ingatan kolektif bangsa terhadap warisan pemikiran dan keteladanan Mohammad Natsir.

Di tengah kesibukan menyelesaikan tahapan akhir studi doktoralnya, Yusril memilih menyempatkan diri mengunjungi pusara tokoh yang selama bertahun-tahun menjadi fokus kajian ilmiahnya.

Refleksi Akademik dan Penghormatan kepada Guru Pemikiran

Baginya, langkah menuju makam Mohammad Natsir merupakan simbol kembalinya seorang murid kepada sosok yang telah memberikan inspirasi intelektual, meski hanya melalui karya-karya dan jejak sejarah yang ditinggalkannya.

“Langkah saya kembali tertuju pada kesunyian Karet Bivak, menemui sebuah nama yang tidak pernah selesai saya pelajari: H. Mohammad Natsir. Di sela hari-hari terakhir menjelang ujian disertasi doktor filsafat saya di Universitas Indonesia, video ini merekam sebuah momen pulang—saat seorang murid kembali duduk di hadapan gurunya, melepas sejenak segala atribut akademik,” ungkap Yusril.

Disertasi Mengulas Relasi Islam, Negara, dan Demokrasi

See also  Pedang Pora Iringi Purna Bakti Kompol Hamonangan Simbolon

Kajian akademik yang disusun Yusril berfokus pada penafsiran kembali pemikiran Mohammad Natsir mengenai hubungan Islam dan negara melalui pendekatan filsafat.

Menurutnya, penelitian tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi syarat akademik memperoleh gelar doktor, melainkan menjadi ruang untuk menggali kembali gagasan seorang negarawan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah pemikiran politik Indonesia.

Yusril menilai pemikiran Mohammad Natsir masih memiliki relevansi dalam kehidupan kebangsaan saat ini, terutama dalam memahami hubungan antara nilai-nilai keagamaan, demokrasi, konstitusi, dan kehidupan bernegara.

“Bagi saya, membedah pemikiran Pak Natsir tentang Islam, negara, dan demokrasi melalui pendekatan filsafat bukan sekadar mengejar gelar doktor. Ini adalah ikhtiar batin untuk merawat ingatan kita bersama bahwa Indonesia pernah dibesarkan oleh gagasan-gagasan yang megah sekaligus teduh,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penelitian filsafat tidak hanya berorientasi pada pengembangan teori, tetapi juga berupaya menghadirkan kembali relevansi pemikiran tokoh bangsa dalam menjawab tantangan kehidupan bernegara di era modern.

Keteladanan yang Melampaui Perbedaan Politik

Dalam refleksinya, Yusril menekankan bahwa warisan terbesar Mohammad Natsir bukan hanya gagasan intelektual, melainkan keteladanan dalam berpolitik.

Menurutnya, sejarah mencatat bahwa Mohammad Natsir memiliki pandangan politik yang kerap berbeda dengan sejumlah tokoh nasional pada masanya.

Namun, perbedaan tersebut tidak menghilangkan sikap saling menghormati sebagai sesama anak bangsa.

Yusril mengingatkan bahwa para pendiri bangsa mampu memisahkan perbedaan pandangan politik dari hubungan pribadi dan kepentingan nasional.

Mereka tetap menjalin persahabatan, berdialog, serta bekerja sama demi menjaga persatuan Indonesia.

“Sejarah mencatat betapa tajamnya perbedaan sikap politik Pak Natsir dengan para tokoh sezamannya, namun di luar ruang sidang mereka adalah sahabat erat yang saling menghormati dan duduk bersama demi Indonesia.”

Pesan tersebut, menurut Yusril, menjadi pelajaran penting bagi kehidupan demokrasi Indonesia yang terus berkembang.

See also  Kapolres Beltim Cek Rutan, Perkuat Keamanan Tahanan

Relevansi bagi Demokrasi Indonesia

Dalam pandangan Yusril, kehidupan politik modern membutuhkan ruang dialog yang lebih dewasa.

Perbedaan pandangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem demokrasi, tetapi harus tetap berada dalam koridor saling menghormati dan menjunjung kepentingan nasional.

Ia menilai nilai-nilai yang diwariskan Mohammad Natsir menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan sekadar kompetisi politik, melainkan juga kemampuan menjaga etika dalam perbedaan.

Di tengah dinamika politik yang semakin kompleks, sikap menghargai lawan politik dan mengutamakan persatuan bangsa dinilai menjadi modal penting bagi keberlangsungan demokrasi Indonesia.

Makna Ziarah sebagai Refleksi Kebangsaan

Ziarah ke makam tokoh bangsa bukan hanya menjadi tradisi penghormatan, tetapi juga sarana refleksi terhadap nilai-nilai yang pernah diperjuangkan oleh para pendahulu.

Bagi Yusril, kunjungan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia dibangun oleh tokoh-tokoh yang mampu mengedepankan dialog, pemikiran, dan kebijaksanaan dalam menghadapi perbedaan.

Refleksi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman terhadap sejarah, nilai budaya, serta pengalaman para pendiri bangsa.

Melalui kajian akademik yang mengangkat pemikiran Mohammad Natsir, Yusril berharap warisan intelektual tersebut tetap menjadi bagian dari diskursus ilmiah maupun kehidupan berbangsa.

See also  Bripka Supriyono Bangun Masjid Rp1 Miliar dari Hasil Jerih Payah

Pendidikan Tinggi dan Tanggung Jawab Intelektual

Disertasi doktor tidak hanya menjadi syarat memperoleh gelar akademik, tetapi juga merupakan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Kajian mengenai pemikiran Mohammad Natsir membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai hubungan agama, negara, demokrasi, serta filsafat politik dalam konteks Indonesia sebagai negara yang plural dan demokratis.

Melalui penelitian tersebut, tradisi akademik diharapkan mampu menghadirkan perspektif baru yang dapat memperkaya pemikiran kebangsaan tanpa melepaskan akar sejarah dan nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri bangsa.

Menjaga Persatuan sebagai Pesan Utama

Menutup refleksinya di hadapan pusara Mohammad Natsir, Yusril menegaskan bahwa menjaga keutuhan bangsa harus menjadi prioritas di atas segala perbedaan pandangan politik maupun ideologi.

“Di depan pusara ini, sebuah pesan sunyi kembali menegaskan: boleh saja kita berbeda pandangan, namun menjaga keutuhan Indonesia adalah kewajiban yang utama.”

Pesan tersebut menjadi inti dari perjalanan akademik sekaligus perjalanan batin yang ia bagikan menjelang ujian doktoralnya.

Ziarah ke makam Mohammad Natsir bukan sekadar penghormatan kepada seorang tokoh nasional, melainkan juga ajakan untuk kembali menempatkan etika, keteladanan, dan semangat persatuan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.

Di tengah dinamika politik yang terus berkembang, nilai-nilai yang diwariskan para pendiri bangsa tetap relevan sebagai penuntun dalam membangun demokrasi yang dewasa, menghargai perbedaan, dan mengutamakan kepentingan Indonesia di atas segala kepentingan lainnya. | RumahGadangNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Media Sosial

LAINNYA
x