x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM [RGN#NEWS] WARKOP HARLEX MANGGAR SEDIA TEH MANIS - KOP SUSU - KOPI O - JUS - COKLAT DINGIN - COKLAT HANGAT & ANEKA KULINER ALAMAT JALAN SITU KULONG MINYAK MANGGAR DEKAT KAWASAN WISATA KULONG MINYAK BELITUNG TIMUR [RGN#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA [RGN#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [RGN#NEWS] MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [RGN#NEWS]

Sejarah Singkawang : Dari Kota Tambang Emas Menjadi Simbol Kebinekaan

7 minutes reading
Thursday, 24 Sep 2026 01:49 267 RumahGadangNewsCom

RumahGadangNews.Com | JSCgroupmedia ~ Kota Singkawang memiliki sejarah panjang yang berkelindan dengan perdagangan, migrasi, pertambangan emas, akulturasi budaya, serta perkembangan masyarakat Tionghoa, Dayak dan Melayu.

Berawal sebagai kawasan pesisir yang menjadi tempat singgah pedagang dan penambang emas menuju Montrado, Singkawang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan, permukiman dan kebudayaan hingga akhirnya ditetapkan sebagai daerah otonom melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2001 dan diresmikan pada 17 Oktober 2001.

Jejak sejarah Singkawang bahkan telah masuk catatan perjalanan orang Eropa pada abad ke-19.

Kajian arsitektur dan sejarah kawasan Pecinan Singkawang mencatat bahwa nama kota ini telah dikenal bangsa Eropa sejak 1834, ketika penjelajah Inggris George Windsor Earl menuliskannya sebagai “Sinkawan” dalam karya The Eastern Seas.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa Singkawang pada masa itu telah memiliki arti ekonomi sebagai bagian dari jaringan perdagangan kawasan barat Borneo.

Hubungan Singkawang dengan aktivitas pertambangan emas di Montrado menjadi salah satu kunci untuk memahami pertumbuhan kota tersebut.

Pemerintah Kota Singkawang menjelaskan bahwa pada masa awal, Singkawang merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Sambas dan berfungsi sebagai tempat singgah para pedagang serta penambang emas sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Montrado.

Singkawang juga menjadi tempat transit pengangkutan hasil tambang emas dari pedalaman menuju kawasan pesisir.

Kajian arkeologi memberikan gambaran yang sejalan.

Penelitian Balai Arkeologi menyebut permukiman Tionghoa awal di Singkawang berkembang di sekitar muara Sungai Singkawang, yang berkaitan erat dengan pelabuhan kapal saudagar emas yang membawa hasil pertambangan dari Montrado.

Posisi geografis tersebut kemudian membantu Singkawang berkembang menjadi kawasan perdagangan yang penting.

Pada abad ke-18, kedatangan masyarakat Tionghoa, khususnya kelompok Hakka, berkaitan erat dengan aktivitas pertambangan emas di Kalimantan Barat.

Buku pengayaan sejarah Singkawang yang tersimpan di repositori Kemendikdasmen mencatat bahwa Panembahan Mempawah mengundang penambang Tiongkok sekitar 1740, sementara Sultan Sambas juga mendatangkan penambang emas Tiongkok dalam jumlah besar.

Pada masa kongsi, Singkawang berfungsi sebagai entrepôt, atau pelabuhan perdagangan, bagi kegiatan ekonomi kongsi-kongsi besar yang berpusat di Montrado.

Perubahan ekonomi kemudian menggeser wajah Singkawang. Ketika aktivitas pertambangan emas mengalami perubahan dan sebagian penambang meninggalkan kawasan Montrado, sebagian masyarakat bergerak menuju pesisir.

See also  Rajo Ameh Usul SPPG MBG Dikelola Pengusaha Minang

Mereka tidak seluruhnya kembali ke aktivitas pertambangan, tetapi beralih menjadi pedagang, petani dan pelaku usaha lainnya. Perkembangan itu ikut memperkuat posisi Singkawang sebagai kota perdagangan.

Hubungan dagang dengan Singapura juga menjadi bagian dari sejarah ekonomi kawasan.

Kajian sejarah ekonomi menunjukkan Singkawang berkembang sebagai salah satu jalur perdagangan dengan Singapura, terutama untuk komoditas seperti karet rakyat dan kelapa.

Sumber lain mencatat komoditas kopra dari Kalimantan Barat dipasarkan menuju Singapura melalui sejumlah pelabuhan, termasuk Singkawang.

Jejak perdagangan tersebut masih dapat dilihat dari warisan bangunan bersejarah.

Rumah Tua Keluarga Tjhia, misalnya, dibangun pada 1901 dan berkaitan dengan aktivitas saudagar Tionghoa yang memperdagangkan hasil bumi, termasuk kopra dan damar yang dipasarkan ke Singapura.

Bangunan tersebut kini tercatat sebagai cagar budaya dan menjadi bagian dari warisan sejarah Kota Singkawang.

Sementara itu, asal-usul nama Singkawang memiliki beberapa versi.

Salah satu versi yang banyak digunakan Pemerintah Kota Singkawang menyebut masyarakat Hakka mengenalnya sebagai San Keuw Jong, istilah yang dikaitkan dengan kondisi geografis berupa laut, pegunungan dan sungai yang mengalir menuju muara.

Posisi Singkawang yang berada di pesisir barat Kalimantan memang memperlihatkan karakter geografis tersebut.

Ada pula versi yang menghubungkan nama Singkawang dengan masyarakat Dayak Salako, yakni istilah Sakawokng. Namun, asal-usul nama tersebut tidak sebaiknya diperlakukan sebagai satu-satunya penjelasan historis.

Sumber sejarah dan kajian mengenai Singkawang menunjukkan adanya beberapa tradisi penamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Karena itu, asal nama kota lebih tepat diberitakan sebagai sejumlah versi sejarah dan linguistik, bukan sebagai fakta tunggal yang sudah tidak diperdebatkan.

Begitu pula dengan klaim mengenai status desa pada 4 Mei 1917.

Penelusuran sumber menunjukkan tanggal tersebut justru tercatat sebagai sejarah Desa Singkawang di Kecamatan Muara Bulian, bukan sejarah administratif Kota Singkawang di Kalimantan Barat.

Karena itu, tanggal tersebut tidak tepat digunakan sebagai dasar penetapan status Desa Singkawang di Kalimantan Barat.

Sejarah administratif Kota Singkawang sendiri mengalami sejumlah perubahan pada masa pemerintahan kolonial.

Buku sejarah Singkawang dari Kemendikdasmen mencatat bahwa sejak 1839 struktur pemerintahan di wilayah ini mengalami beberapa kali perubahan.

Hingga 1848 Singkawang merupakan bagian dari Afdeeling Sambas, kemudian pernah berkaitan dengan struktur Afdeeling Monterado dan mengalami perubahan administratif berikutnya pada awal abad ke-20.

Setelah Indonesia merdeka, Singkawang berada dalam struktur pemerintahan Kabupaten Sambas. Pemerintah Kota Singkawang mencatat bahwa berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 1959, Singkawang menjadi bagian dari Kabupaten Sambas.

See also  Rumah Makan Padang & SPPG MBG Punya Standar Pengelolaan Berbeda

Statusnya kemudian meningkat menjadi Kota Administratif Singkawang pada 1981 berdasarkan PP Nomor 49 Tahun 1981.

Perjalanan menuju otonomi daerah akhirnya mencapai titik penting pada 2001. Melalui UU Nomor 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang, wilayah tersebut ditetapkan sebagai daerah otonom.

Pemerintah Kota Singkawang mencatat peresmiannya berlangsung pada 17 Oktober 2001 di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah atas nama Presiden Republik Indonesia.

Tanggal tersebut kemudian menjadi hari jadi pembentukan Kota Singkawang.

Jika sejarah ekonomi menjadi salah satu fondasi pertumbuhan Singkawang, maka keragaman masyarakat menjadi identitas sosial yang paling menonjol.

Pemerintah pusat melalui DJKN menyebut masyarakat Singkawang memiliki komposisi yang kuat dari komunitas Tionghoa, Dayak dan Melayu. Interaksi panjang ketiga kelompok tersebut melahirkan lingkungan sosial dan budaya yang khas.

Karakter tersebut kemudian melahirkan berbagai julukan, antara lain “Kota Seribu Kelenteng” dan “Hong Kong van Borneo”.

Julukan tersebut menggambarkan kuatnya jejak kebudayaan Tionghoa dalam lanskap kota, terutama melalui keberadaan kelenteng, vihara, kawasan Pecinan, tradisi kuliner dan perayaan budaya.

Kementerian Pariwisata mencatat bahwa pada data 2014 terdapat sekitar 704 kelenteng, vihara dan cetiya di Singkawang.

Salah satu ikon sejarah keagamaan adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya, yang menurut sejumlah sumber didirikan pada 1878.

Kehadiran bangunan keagamaan tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi komunitas Tionghoa berkembang dan bertahan dalam perjalanan panjang sejarah kota.

Namun, Singkawang tidak hanya dapat dipahami melalui identitas Tionghoa. Tradisi dan kehidupan masyarakat Dayak serta Melayu juga menjadi bagian penting dari karakter kota.

Pemerintah Kota Singkawang dalam dokumen RPJMD 2025–2029 menyebut tradisi masyarakat Tionghoa, Dayak dan Melayu tetap berkembang berdampingan, mulai dari Imlek dan Cap Go Meh hingga Gawai Dayak, Naik Dango, Saprahan, Hadrah dan tradisi lainnya.

Di antara seluruh warisan budaya tersebut, Cap Go Meh dan Tatung Singkawang memiliki posisi sangat menonjol.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menetapkan “Cap Go Meh dan Tatung Singkawang” sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 1044/P/2020.

Kajian akademik juga melihat Cap Go Meh bukan sekadar festival. Penelitian mengenai tradisi tersebut menyebutnya sebagai media pendidikan resolusi konflik dan sarana memperkuat toleransi di tengah keragaman etnis Kota Singkawang.

Dengan demikian, nilai penting tradisi tersebut bukan hanya terletak pada atraksi budaya, tetapi juga pada interaksi sosial yang terbentuk di sekelilingnya.

See also  Bidan Puskesmas Sikapak Raih Qari’ah Terbaik I MTQ KORPRI Nasional

Dalam perkembangan terbaru, Festival Cap Go Meh Singkawang tetap menjadi perhatian nasional. Pada 2026, ANTARA melaporkan bahwa Pemerintah Kota Singkawang menempatkan festival tersebut sebagai simbol keharmonisan dan keberagaman masyarakat.

Tokoh nasional Oesman Sapta Odang juga menyampaikan pandangan bahwa perayaan tersebut memperlihatkan praktik toleransi dan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Pernyataan tersebut merupakan penilaian tokoh yang diberitakan ANTARA, bukan ukuran akademik tunggal mengenai tingkat toleransi kota.

Kajian ANTARA lainnya mengenai Singkawang menyoroti bagaimana keberagaman terbentuk melalui interaksi panjang masyarakat Tionghoa, Melayu dan Dayak.

Kehidupan sosial yang berlangsung selama ratusan tahun membuat berbagai tradisi tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi dalam ruang kota yang sama.

Karena itu, sejarah Singkawang sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar cerita tentang kelenteng, Tatung atau Cap Go Meh. Kota ini merupakan hasil perjalanan panjang antara jalur perdagangan, pertambangan emas, migrasi, pelabuhan, perkebunan, kebudayaan dan pembentukan pemerintahan.

Dari tempat transit menuju Montrado, Singkawang berkembang menjadi pusat perdagangan pesisir. Dari kawasan ekonomi kongsi, kota ini berubah menjadi ruang hidup berbagai komunitas.

Dari kota administratif, Singkawang kemudian memperoleh status sebagai daerah otonom. Dan dari warisan sejarah yang beragam, kota tersebut membangun identitas budaya yang terus berkembang hingga sekarang.

Sejarah itu sekaligus membawa pesan penting: keberagaman tidak lahir dalam satu malam. Ia terbentuk melalui perjumpaan, perdagangan, perkawinan, perpindahan penduduk, kerja bersama dan proses sosial yang berlangsung lintas generasi.

Karena itu, menjaga warisan Singkawang berarti bukan hanya merawat bangunan tua dan festival budaya, tetapi juga mempertahankan ruang dialog, kebersamaan dan penghormatan terhadap perbedaan.

Singkawang hari ini adalah kota yang memperlihatkan bagaimana sejarah ekonomi dan keragaman budaya dapat membentuk identitas daerah.

Warisan masa lalu tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan terus hadir dalam arsitektur, bahasa, kuliner, ritual, perdagangan, kehidupan sosial dan kalender budaya masyarakat.

Dengan fondasi tersebut, tantangan berikutnya adalah memastikan modernisasi tidak menghilangkan jejak sejarah.

Pelestarian kawasan Pecinan, bangunan heritage, tradisi Tatung, Cap Go Meh dan berbagai tradisi Dayak serta Melayu perlu berjalan beriringan dengan pembangunan kota, pendidikan sejarah dan pengembangan ekonomi kreatif.

Dengan begitu, Singkawang tidak sekadar dikenang sebagai Kota Seribu Kelenteng, tetapi juga sebagai salah satu ruang penting untuk memahami perjalanan panjang kebinekaan Indonesia. | RumahGadangNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Media Sosial

LAINNYA
x